Hai semua, ketemu lagi sama saya
kali ini saya mau review film Ayat Ayat Cinta yang dibuat berdasarkan novel laris dengan judul sama karya Habiburrahman El Shirazy . Data-data tentang film ini saya kutip tanpa ijin (soalnya ada disclaimer disitus itu) dari www.21cineplex.com.
Data film
saya ambil dari sini
| Produser | Dhamoo Punjabi Manoj Punjabi |
|---|---|
| Penulis | Habiburrahman El Shirazy Retna Ginatri S. Noor Salman Aristo |
| Pemeran | Fedi Nuril Rianti Cartwright Carissa Putri Zaskia Adya Mecca Melanie Putria |
| Musik oleh | Melly Goeslaw Anto Hoed Rossa |
| Distributor | MD Pictures |
| Tanggal rilis | 28 Februari 2008 |
| Bahasa | Bahasa Indonesia |
Plot Ceria ( WARNING : SPOILER)
Dikutip lagi-lagi tanpa ijin dari www.21cineplex.com
Ini adalah kisah cinta. Tapi bukan cuma sekedar kisah cinta yang biasa. Ini tentang bagaimana menghadapi turun-naiknya persoalan hidup dengan cara Islam. Fahri bin Abdillah (Fedi Nuril) adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Berjibaku dengan panas-debu Mesir. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusiasme kecuali satu: menikah. Kenapa? Karena Fahri adalah laki-laki taat yang begitu ‘lurus’. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif saat berhadapan dengan mahluk bernama perempuan. Hanya ada sedikit perempuan yang dekat dengannya selama ini. Neneknya, Ibunya dan saudara perempuannya. Betul begitu? Sepertinya pindah ke Mesir membuat hal itu berubah
Tersebutlah Maria Girgis (Carissa Putri). Tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al Quran. Dan menganggumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta. Sayang cinta Maria hanya tercurah dalam diary saja. Lalu ada Nurul (Melanie Putria). Anak seorang kyai terkenal yang juga mengeruk ilmu di Al Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak. Setelah itu ada Noura (Zaskia Adya Mecca). Juga tetangga yang selalu disika Ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh dengan Noura dan ingin menolongnya. Sayang hanya empati saja. Tidak lebih. Namun Noura yang mengharap lebih. Dan nantinya ini menjadi masalah besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya
Terakhir muncullah Aisha (Rianti Cartwright). Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisha jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya. Lalu bagaimana bocah desa nan lurus itu menghadapi ini semua? Siapa yang dipilihnya? Bisakah dia menjalani semua dalam jalur Islam yang sangat dia yakini?
Film ini sempet heboh karena banyak “cerita” dibalik pembuatannya bahkan sampai diundur jauh dari jadwal awal. Menurut saya, beban Hanung Bramantyo sebagai sutradara berat banget. Pertama, novelnya merupakan best seller. Kedua, sebagian besar pecinta novel mempunyai ekspektasi besar terhadap film yang dibuat berdasarkan novel best seller. Dan ketiga, misi dakwah Hanung Bramantyo yang berbenturan dengan misi komersial dari produser. Hal terakhir ini sudah menjadi rahasia umum dalam pembuatan film komersial bahwa film yang dibuat harus untung atau paling tidak balik modal. Apalagi setting novel Ayat Ayat Cinta berada di negara Mesir dan ada beberapa set yang sepertinya sulit untuk dibuat memakai Computer Graphic (CG) atau studio. Contohnya, didalam novel terdapat adegan yang berada di tepian sungai Nil. Mungkin dengan menggunakan CG bisa saja dibuat seolah-olah para tokoh berada di sungai Nil, tapi menurut saya hal itu sangat sulit (walaupun bisa) dan karena membawa nama besar novelnya maka saya menganggap wajar pada film ini mereka benar-benar syuting di tepi sungai Nil (adegan antara Maria dan Fahri). Pada awal film terlihat piramida pada latar belakang, sekejap saya bisa mengetahui kalo piramida itu menggunakan CG. Kru film ini benar-benar menghemat biaya pembuatan film yang sebelumnya telah dikeluarkan percuma (di blog hanung diceritakan tentang dibalik layar pembuatan film ini), sehingga set pasar di Mesir menggunakan lokasi kota tua di Jakarta (hal ini terlihat pada bangunan yang sering digunakan di film-film bertema klasik seperti Gie), bahkan gedung pengadilan digunakan sebuah gereja di Jakarta (dapet dari blog hanung juga).
Oke, sekarang kita lanjut ke jalan ceritanya. Sebelum film ini putar di bioskop, di kampus saya sudah beredar versi bajakan dari film Ayat Ayat Cinta. Banyak yang berkomentar setelah menonton versi bajakan bahwa film Ayat Ayat Cinta melenceng jauh sekali dari novelnya, bahkan gambarnya jelek banget. Saya sendiri menahan diri untuk tidak menonton versi bajakannya karena saya punya komitmen untuk film indonesia saya akan menonton di bioskop atau beli VCD/DVD aslinya. Di bioskop aja udah murah Rp 10.000-15.000 kenapa harus nonton bajakan dengan kualitas gambar yang jauh dari standar. Kenapa saya punya komitmen seperti ini, karena saya sendiri merasakan bagaimana capeknya membuat film (walaupun saya hanya membuat film pendek), maaf ya jadi OOT. Oke, back to topic. komentar-komentar negatif tentang film ini banyak sekali saya baca melalui forum-forum yang membahas tentang film ini, padahal filmnya sendiri belum keluar. Bahkan ada yang meng-atasnama-kan agama tertentu, kasian sekali mereka yang menggunakan agama sebagai tameng.
Akhirnya pada tanggal 28 Februari 2008, film Ayat Ayat Cinta resmi putar di bioskop bandung pada jam reguler yang sebelumnya sudah tayang pada jam tengah malam. 28 Februari 2008 itu hari kamis dan saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan untuk sekedar menonton Ayat Ayat Cinta, saya memutuskan menonton pada hari Jumat di Bandung Supermal berdua dengan seorang wanita. Sesampainya di BSM, kami berdua kaget bahwa antriannya panjang banget, dengan sabar kami mengantri dan akhirnya dapat tiket untuk jam 12.00 siang di studio 2 dan mendapatkan kursi F5-6 yang posisinya di pinggir
Film dimulai dan berakhir setelah sekitar 120 menit lamanya. Teman nonton saya yang belum membaca novelnya bahkan tepuk tangan sambil keluar airmata ketika film ini berakhir. Dia bilang kalau ini film drama indonesia yang paling bagus dan “dalem banget”. Saya sendiri yang sudah membaca novelnya pun benar-benar terharu dengan film ini. Hanung benar-benar bisa mengacak-acak suasana hati penonton dengan gambar yang indah dan editing yang bagus. Setelah menonton saya ingat dengan komentar-komentar temen saya yang sudah menonton versi bajakannya. Mereka bilang ceritanya melenceng dari novelnya, saya kurang setuju dengan ini karena menurut saya poin-poin penting dari cerita Ayat Ayat Cinta masih satu jalur dengan novelnya walaupun ada beberapa bagian yang hilang tetapi tidak mempengaruhi inti cerita dari film ini. Bahkan bagi penonton yang belum membaca novel pun masih bisa mengerti jalan cerita dari film ini, bahkan hari ini pacar saya nonton lagi sama temen-temennya!. Maaf sebelumnya, saya sampai detik ini belum menonton versi bajakannya jadi ini merupakan opini yang tidak bisa dijadikan patokan.
Kalau diatas adalah review dari sisi alur cerita, sekarang saya akan sok tau me-review tentang sinematografi dari film ini. Pengambilan gambar dari sudut-sudut yang tidak biasa oleh Hanung di film ini benar-benar mencerminkan gaya dari Hanung. Kalau kita liat kebelakang film-film Hanung sebelumnya seperti Catatan Akhir Sekolah, Jomblo, dsb terdapat kemiripan dari sisi sudut pengambilan gambar. Gambar-gambar pada film ini benar-benar indah dan dapat membuat penonton seakan-akan ikut dalam suasana yang terjadi di dalam film. Ada sih beberapa scene yang keliatannya masih “sinetron banget”. Dari sisi suara, menurut saya yang sok tau ini, masih terdapat noise walaupun noise tersebut terdengar seperti “dihilangkan” tetapi bagi saya kualitas suara film Ayat Ayat Cinta masih dalam batas wajar (dialog pemeran masih bisa dimengerti). Para pemeran pun sepertinya total dalam berakting untuk film ambisius ini. Carissa Putri yang berperan sebagai Maria bermain bagus, Rianti yang berperan sebagai Aisyah bermain bagus walaupun Rianti tidak bisa menghilangkan gaya bicaranya yang khas di acara MTV. Ferdi Nuril pun bermain baik sebagai Fahri walaupun banyak yang bilang dia gak cocok jadi Fahri. Dibandingkan dengan novelnya sih masih jauh lebih bagus novel.. cuma dari segi sinematografi film ini diatas rata-rata.
Kayaknya saya sudah terlalu panjang nulis tentang film ini, padahal buat nulis buku Tugas Akhir aja saya males-malesan
Kesimpulan dari review ini adalah film ini bagus banget dan HARUS ditonton dan jangan membandingkan dengan novelnya. Ada sedikit saran buat para wanita bila ingin menonton film ini, sebelum menonton sebaiknya ke toilet dulu dan selama nonton jangan minum banyak-banyak. Soalnya film ini sekitar 120 menit lebih dan sepertinya sayang banget kalo ditinggal 5 menit buat pipis
Nilai dari saya : 4 dari 5
edit 3 Maret 2008 : Buat yang baca post ini, saya review film ini dengan tidak membandingkan dengan novelnya. Jujur, novelnya masih jauh lebih bagus dari filmnya. Membaca itu membuka ruang imajinasi dengan luas yang gak bisa manusia ukur, sedangkan film hanya visualisasi yang “terkotak” didalam layar bioskop. Trus, saya menonton film ini bukan karena ini film Islami atau film Islam atau film dakwah. Terlepas dari dakwah atau tidak, film ini masih diatas rata-rata dari film-film indonesia akhir-akhir ini. Peace yo hehehe
Wah, sy jadi penasaran nech pengen nonton.. Kira2 kpn ya versi VCD/DVD aslinya keluar?
Oleh: rievees on Maret 1, 2008
at 8:39 pm
wah, kata orang2 antara film dan novelnya beda banget, sama kayak harpot lah, udah baca novelnya mending jangan nonton filmnya, soalnya lewat novel kita disuruh berfantasi, trus tiba2 ada filmnya yang bikin fantasi amburadul (kata beberapa orang loh, gwe ngutip doank kok)
makanya gwe pengen tanya sama bloggernya, emang bener ya?? antara novel AAC sama filmnya itu beda banget, soalnya dari beberapa review yang gwe baca di WP, 7 dari 10 blogger bilang jelek banget, ada tanggapan?? ditunggu ya
btw, sori klo ada beberapa kata yang menyinggung, no offense lah…
Oleh: novan yahya on Maret 2, 2008
at 1:43 am
setuju…!!! Gw sndiri emang blom liat film aslinya, tapi gw yakin, film ini pasti bagus. gw udah baca di blognya hanung “rasanya film dibajak” pasti gak enak bgt… gw juga udah baca apa yang melatar belakangi mas hanung bikin film ini. Ibunya mas hanung pesen “Nanti kalo udah bisa buat film, buat lah film tentang agamamu, Islam”. Gw juga udah baca novelnya. Emg sih, sedikit melenceng. Tapi, salut buat mas Hanung, semoga bisa berkarya yang lebih baik dari sebelumnya. Amiiiin…..
Oleh: zhugo on Maret 2, 2008
at 9:05 am
ayat2 cinta emg oxz bgt,,
Oleh: arney on Maret 2, 2008
at 10:18 am
aslkm
sya nonton sebelum film ini rilis
anak gunadarama depok banyak yang nonton film ini seblum rilis
hmmmmmm
kurng mantap filmnya
liat aisyah nya kayaknya emosi sangat tidak sama dengan buku yang lembut…
gitu aj sie
waslkm
Oleh: okikuswanda on Maret 2, 2008
at 10:44 am
apapun kata orang tentang ni film tetep ja bagi saya film ni salah satu yang terbaik yang pernah dibuat seniman endonesia….
Oleh: ivn on Maret 2, 2008
at 1:51 pm
Bagus jg resensinya….. dan saya sebagai salah satu penggemar mengucapkan Selamat buat P Hanung dan Kru. BTW sy jg ngikutin crita dari awal pembuatan film. sampai perjuangan utk mendapatkan perijinan pihak keamanan Mesir. Hanya saja masih tdk bisa sehingga harus berpindah haluan mencari setting yang hampir mirip. So Tq so Much.
Oleh: futurerich on Maret 2, 2008
at 2:29 pm
[...] Review Film : Ayat Ayat Cinta « Untitled Document Review Film : Ayat Ayat Cinta « Untitled Document [...]
Oleh: Review Film : Ayat Ayat Cinta « Untitled Document « enstein wanna be on Maret 2, 2008
at 4:53 pm
good posting!
Oleh: Yusuf on Maret 2, 2008
at 9:03 pm
Wah, sepertinya kita sependapat
Malah saya menyarankan kepada teman-teman kantor, apabila hendak menonton film ini, “jangan baca novelnya dulu”, dan bagi yang sudah membaca novelnya, “jangan bandingkan 1 : 1 dengan novelnya.”
Ada teman yang mati-matian gak mau nonton film Indonesia di bioskop, akhirnya setelah nonton film ini langsung angkat jempol dan bilang “kalau semua film Indonesia begini, saya akan jadi maniak nonton deh.”
Oleh: khalidmustafa on Maret 3, 2008
at 7:40 am
Sayang deskripsinya baru sebatas deskripsi peran. Film ayat-ayat cinta, dinilai oleh kalangan muslim sebagai film islami modern. Artinya sebagai film yang membawa misi Islam. Di sinilah yang sebenarnya ingin saya dapatkan gambarannya. Apakah misi semacam ini tercapai atau tidak, atau film to film saja
Oleh: abah Zacky al-Atsary on Maret 3, 2008
at 8:03 am
Gw jg dah nonton…bagus siy…tp emg kalo kita udah kburu suka ama novelnya..pas ntn filmnya agak kurang nyess..:), mgkn jg krn apa yg kita bayangkan pas baca novel..trnyt berbeda dgn visualisasi di film..:), tp it’s OK…bagi gw..film ini bagus..dan seenggaknya bedalah dgn film2 indonesia yg ada…yg kadang terlalu mengedepankan crt ttg anak2 gaul…hehehe…
^_^
*RiezKa*
Oleh: mbasika on Maret 3, 2008
at 8:41 am
@rieves
blm tau tuh ada VCD/DVDnya kapan. tapi biasanya sih gak sampe 1 tahun dah ada versi DVDnya…
@novan yahya
.. iya sih.. kadang ekspektasi pembaca terlalu tinggi.saya sih juga merasa novelnya masih terlalu bagus dibandingkan filmnya. Cuma untuk film indonesia, diluar “sama atau tidak dengan nobvel” film ini diatas rata2
gpp kok bro sante aja
@zhugo
udah dikasih murah nonton di 21 cuma 10-20ribuan kok
setuju… stop nonton bajakan
@arney
hehehe
@okikuswanda
bener banget… emosi aisyah kurang dibandingkan novelnya. review saya disini cuma tentang filmnya aja kok diluar “sama atau tidak” dengan novel
@ivn
maju terus film indonesia… jangan nonton bajakan !
@futurerich
sama2…
@futurerich (again)
saya di ISC telkom japati bro.. dulu pernah di gatsu cuma pas ada PD aja. Di gatsu ada juga yang namanya Didit
@yusuf
thanks… saya cuma belajar nulis aja
@khalidmustafa
btw, thanks
ini yang susah bro, biasanya fans para novelnya pasti membanding-bandingkan dengan filmnya. Seni membaca dan seni melihat itu jauh berbeda. Menurut saya “membaca” bisa membuka ruang imajinasi yang lebih luas dari “melihat”. Film2 indonesia sekarang dah bagus kok, cuma sebel aja liat film2 horor yang cuma sekelas sinetron, blm bisa sama levelnya dengan jelangkung series
@abah Zacky al-Atsary
makasih dah kasih komennya.. saya review disini diluar dari masalah agama. Saya sendiri muslim, tapi saya sendiri sadar bahwa pengetahuan islam saya tidak ada apa-apanya dibandingkan orang lain. Jadi saya hanya bisa review soal teknis aja.. btw, makasih dah mampir
Oleh: Pradita Utama on Maret 3, 2008
at 8:48 am
bagus.. emang bagus nih filem..
aku juga udh nonton..
versi bajakan…
Oleh: oRiDo on Maret 3, 2008
at 9:32 am
@oRiDo
abis gimana ya… takut euy nonton/pake bajakan, ada yang bilang haram ada yang bilang gak apa apa, jadi saya pilih yang normal2 aja
thanks udah mampir…
wah dapet juga ya bajakannya mas ? saya malah blm dan gak mau dapet mas
Oleh: Pradita Utama on Maret 3, 2008
at 9:36 am
Dit, mungkin lo sebagai orang yang pernah baca novelnya, gua mo nanya neh. pertanyaan gua bukan karena gua pernah baca novelnya yah, tapi karena dapet info dari istri yg pernah baca novelnya.
Menurut lo, apakah cerita seperti itu kalau memang tdk akan sama seperti di novel, esensi filmnya haruskah mesti dibuat di mesir?
Karena beliau berani menambahkan dan mengurangi beberapa laur cerita, mengapa tidak diinterprestasikan saja di salah satu kampus di Indonesia? Toh yang keren kan jalan certa dan dakwahnya.
Kenapa? karena dalam cerita pun mesir tidak menjadi faktor utama, bahkan digantikan dengan India.
saran gua seh, buat yang belum nonton filmnya, sebaiknya kagak usah nonton. lebih baik baca novelnya. dan yang sudah baca novelnya, sebaiknya jangan nonton filmnya, lo pasti kecewa berat.
karena menurut gua film Ayat-ayat Cinta, sama sekali tidak ada ayat-ayatnya. huehuheue. hanya sebuah film romantis yang mencatut nama besar novel Ayat-Ayat Cinta.
review gua: http://pribadi.wordpress.com/2008/02/12/ayat-ayat-cinta-the-movie-sangat-saya-sesali/
Oleh: StandAlone on Maret 3, 2008
at 10:14 am
@StandAlone
trus kalo gak pake embel2 mesir, ya gak bonafide keliatannya. Apalagi sebagian besar cerita di novel ada di mesir ya mau gak mau harus mesir wannabe (menggunakan set tempat yang bukan aslinya sering digunakan di film, itu bagian dari Movie Magic ) 
nah itu dia kak, susah bikin film komersil yang berbenturan sama idealisme… Hanung yang idealis lawan klan Punjabi yang orientasinya bisnis. Jujur, kalo misalnya film ini gak pake nama Ayat-Ayat Cinta pasti gak akan rame tuh antriannya… itu lagi-lagi urusan bisnis
Kalo pemerannya bukan Rianti, Carissa dkk pasti juga gak akan rame… Kalo saya liat di film ini, unsur dakwahnya gak keliatan banget, ini film komersil romantis. lagi-lagi benturan kepentingan, sutradara pengen dakwah produser pengen duit. tetep aja sutradara ngikutin yang punya duit.. jadinya produser gak mau tau yang penting balik modal, mau beda sama novel yang penting duit balik.. gitu kali ya ? hehehe. Dari sisi komersil film ini sukses kayaknya, tapi kalo dah ngomongin idealisme para pembaca novel ya udah kayak langit dan bumi.
makanya, enak bikin film independen, bebas
btw, makasih dah mampir
Oleh: Pradita Utama on Maret 3, 2008
at 10:41 am
Assalamu’alaikum. wah ok banget tuh. Aq udah baca ampe abizzz buku novelnya but aq blom nonton neh filmnya. aq jadi penasaran dech.
Oleh: asih05 on Maret 3, 2008
at 10:51 am
@asih05
wa’alaikumsalam. makasih… kalo misalnya mengharapkan sama kayak novelnya kayaknya bakalan kecewa
Oleh: Pradita Utama on Maret 3, 2008
at 11:08 am
wah perlu dibandingkan juga antara bajakan sama yg di bioskop nih
Oleh: dobelden on Maret 3, 2008
at 11:59 am
@dobelden
bener juga… harus ada pembanding
Oleh: Pradita Utama on Maret 3, 2008
at 12:12 pm
Saya tunggu aja VCD aslinya, masalahnya di pulau natuna gak ada bioskop, kalau mo nonton bioskop malah lebih mahal lagi mas, gak cukup 20 ribu, tiket pesawat pp aja udah berapa, hehehe…
saya udah baca versi novelnya, dan gak terlalu ngotot buat liat filmnya, tapi tetap cari VCDnya.
Oleh: taqi on Maret 3, 2008
at 12:16 pm
film harpot bukannya justru salah satu film yg sangat setia pada alur cerita di novelnya. kalo harpot aja dibilang melenceng, hmmm, aneh juga wakakakaka
Oleh: papabonbon on Maret 3, 2008
at 12:26 pm
@taqi
bagus deh, masih ada juga yang rela beli VCD asli, dukung film indonesia
wah di natuna ya ? salam dari bandung
Oleh: Pradita Utama on Maret 3, 2008
at 12:31 pm
review yang bagus, mas pradit..
Salam kenal dari saya
Saya hanya sempat melihat thriller film ini dan yang saya sesalkan adalah adanya adegan romantis (yang seharusnya tidak perlu) antara Fahri dan Maria. Setahu saya, mereka hanya keep in touch di tempat tidur saja (dari novelnya).
Mungkin anda yang sudah menonton film ini bisa mengkonfirmasi kembali kepada saya…:)
terima kasih atas perhatiannya..
putri
Oleh: syelviapoe3 on Maret 3, 2008
at 12:46 pm
@syelviapoe3
bener banget, ada sedikit adegan romantis yang di novel tidak ada..
makasih dah mampir
Oleh: Pradita Utama on Maret 3, 2008
at 12:50 pm
Nonton bajakan Film Indonesia, HARAM HUKUMNYA!!
Siapa yang membajak Film Indonesia, PENGHIANAT BANGSA!!
MERDEKA!!!
Oleh: Siap Gempur on Maret 19, 2008
at 7:56 pm